Blog Pertanian
Wereng Cokelat Musim Hujan 2026: Panduan PHT untuk Petani Padi
Hama & Penyakit

Wereng Cokelat Musim Hujan 2026: Panduan PHT untuk Petani Padi

Foto: Unsplash

Musim hujan 2026 tingkatkan risiko serangan wereng cokelat. Pelajari strategi PHT lengkap agar padi Anda selamat sampai panen.

11 Mei 2026oleh Tim Redaksi TANIOS

Wereng Cokelat Musim Hujan 2026: Panduan PHT untuk Petani Padi

Mei 2026 โ€” Memasuki pertengahan musim hujan, laporan serangan wereng cokelat (Nilaparvata lugens) mulai meningkat di beberapa sentra padi Jawa, Sumatera Selatan, dan Sulawesi Selatan. Kondisi lembap dengan curah hujan tinggi memang menjadi surga bagi hama kecil berbahaya ini. Kalau tidak ditangani tepat, satu petak sawah bisa mengalami hopperburn โ€” padi mengering tiba-tiba seperti terbakar โ€” dalam waktu kurang dari seminggu.

Berita baiknya: dengan strategi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang benar, serangan wereng bisa dikendalikan tanpa harus langsung mengandalkan pestisida kimia berat.

Kenali Dulu Musuhnya

Wereng cokelat berkembang biak sangat cepat. Dalam satu siklus (25โ€“30 hari), betina bisa menghasilkan 100โ€“500 telur. Hama ini menghisap cairan batang padi sekaligus menjadi vektor virus Kerdil Rumput dan Kerdil Hampa. Populasi di atas 10 ekor per rumpun sudah wajib diwaspadai dan segera ditindaklanjuti.

Strategi PHT Langkah demi Langkah

1. Tanam Varietas Tahan Wereng

Ini pertahanan utama. Gunakan varietas yang sudah terbukti tahan, seperti Inpari 13, Inpari 32 HDB, Inpari 42 GSR, atau Ciherang Sub-1 untuk daerah rawan banjir. Hindari Ciherang biasa di daerah endemis wereng karena sudah mulai rentan terhadap biotipe 3.

2. Tanam Serempak dan Atur Jarak Tanam

Tanam serempak dalam satu hamparan (selisih maksimal 2 minggu) memutus siklus hidup wereng. Gunakan jarak tanam jajar legowo 2:1 (25 cm ร— 12,5 cm ร— 50 cm) agar sirkulasi udara lebih baik dan populasi wereng tidak meledak.

3. Pantau Rutin dengan Pengamatan Mingguan

Lakukan pengamatan setiap 5โ€“7 hari sekali sejak tanaman berumur 2 minggu. Ambil sampel minimal 10 rumpun acak per petak. Catat jumlah wereng per rumpun menggunakan bagan pengamatan dari BBPOPT (Balai Besar Peramalan OPT).

4. Manfaatkan Musuh Alami

Jaga populasi laba-laba (Lycosa spp.), kepik mirid, dan parasitoid telur Anagrus spp. Caranya: jangan semprot insektisida berspektrum luas sebelum populasi hama benar-benar di atas ambang ekonomi. Tanam tanaman refugia seperti kenikir atau bunga matahari di pematang untuk menarik musuh alami.

5. Pengendalian Kimia Hanya Jika Perlu

Jika populasi sudah melewati ambang ekonomi (>10 ekor/rumpun fase vegetatif, >20 ekor/rumpun fase generatif), baru gunakan insektisida selektif:
  • Buprofezin 10% SC โ€” dosis 1โ€“1,5 ml/liter air, semprot merata ke pangkal batang
  • Imidakloprid 5% WP โ€” dosis 0,5โ€“1 g/liter air (rotasi agar tidak resistensi)
  • Dinotefuran 50% WG โ€” dosis 0,3โ€“0,5 g/liter air untuk serangan berat
  • Semprot pagi hari pukul 06.00โ€“08.00, arahkan ke pangkal batang, bukan daun.

    6. Pengelolaan Air dan Pemupukan

    Hindari pemupukan nitrogen berlebihan (>200 kg urea/ha) karena membuat tanaman "gemuk" dan jadi makanan favorit wereng. Gunakan rekomendasi pemupukan berimbang sesuai Permentan No. 47 Tahun 2024 tentang Rekomendasi Pemupukan Padi Sawah.

    Penutup

    Wereng cokelat memang musuh lama petani padi Indonesia. Tapi dengan PHT yang konsisten โ€” mulai dari pilihan varietas, pemantauan rutin, hingga penggunaan pestisida yang tepat sasaran โ€” ancaman ini bisa dikelola. Jangan tunggu padi kuning dulu baru bertindak.


    Tips Singkat: โœ… Pantau setiap minggu mulai umur 2 MST โœ… Ambang semprot: >10 ekor/rumpun (vegetatif) โœ… Rotasi insektisida untuk cegah resistensi โœ… Jaga musuh alami โ€” tidak perlu semprot kalau belum waktunya โœ… Laporkan serangan ke petugas PPL setempat untuk koordinasi hamparan