Blog Pertanian
Pupuk Organik vs Kimia di Sawah: Mana yang Harus Dipilih?
Pupuk

Pupuk Organik vs Kimia di Sawah: Mana yang Harus Dipilih?

Foto: Unsplash

Bingung memilih pupuk untuk sawah? Pelajari kelebihan dan kekurangan pupuk organik vs kimia agar panen makin optimal.

9 Mei 2026oleh Tim Redaksi TANIOS

Pupuk Organik vs Kimia di Sawah: Mana yang Harus Dipilih?

Setiap musim tanam tiba, pertanyaan yang sama selalu muncul di benak petani: pakai pupuk organik atau kimia? Keduanya punya penggemar masing-masing, dan keduanya punya alasan kuat. Tapi daripada berdebat, yuk kita bedah bersama supaya pilihan kamu di musim tanam Mei 2026 ini benar-benar tepat sasaran.

Cara Kerja Pupuk Kimia di Sawah

Pupuk kimia seperti Urea (46% N), SP-36 (36% Pโ‚‚Oโ‚…), dan KCl (60% Kโ‚‚O) bekerja cepat. Begitu larut di air sawah, unsur hara langsung tersedia untuk diserap akar padi dalam hitungan hari. Ini sangat menguntungkan saat tanaman butuh nutrisi mendesak, misalnya saat fase anakan aktif (hari ke-14 sampai ke-21 setelah tanam).

Dosis umum untuk padi varietas Ciherang atau Inpari 32 per hektar:

  • Urea: 200โ€“250 kg, dibagi dua kali pemupukan (hari ke-7 dan ke-30)
  • SP-36: 100 kg, diberikan saat tanam
  • KCl: 100 kg, diberikan bersamaan dengan Urea dosis kedua
  • Kelemahan utamanya: pemakaian jangka panjang bisa memadatkan tanah, menurunkan pH, dan membunuh mikroorganisme tanah yang berguna.

    Kekuatan Pupuk Organik yang Sering Diremehkan

    Pupuk organik seperti kompos jerami, pupuk kandang sapi matang, atau pupuk hayati (biofertilizer) bekerja lebih lambat, tapi manfaatnya jauh lebih panjang. Bahan organik memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kapasitas simpan air, dan menghidupkan kembali mikroba baik seperti Azospirillum dan Rhizobium yang membantu fiksasi nitrogen alami.

    Aplikasi yang direkomendasikan:

  • Kompos jerami: 2โ€“3 ton per hektar, dibenamkan 2 minggu sebelum tanam
  • Pupuk kandang sapi matang: 1โ€“2 ton per hektar, dicampur saat olah tanah
  • Biofertilizer cair: 4โ€“5 liter per hektar, disemprotkan pada benih atau tanah sebelum tanam
  • Keterbatasannya: kandungan hara lebih rendah dan tidak bisa menyelamatkan tanaman yang sudah kekurangan nutrisi parah secara instan.

    Solusi Terbaik: Kombinasi Keduanya

    Penelitian Balai Besar Penelitian Padi (BB Padi) menunjukkan bahwa pendekatan pemupukan terpadu โ€” menggabungkan organik dan kimia โ€” bisa meningkatkan hasil gabah 10โ€“20% dibanding hanya pakai satu jenis saja, sekaligus menghemat dosis pupuk kimia hingga 30%.

    Contoh skema praktis per hektar:

  • 2 minggu sebelum tanam: Benamkan 2 ton kompos jerami
  • Saat tanam: Aplikasikan SP-36 75 kg + KCl 75 kg
  • Hari ke-7: Urea 100 kg
  • Hari ke-30: Urea 100 kg + semprotkan pupuk hayati cair
  • Dengan cara ini, tanah tetap sehat jangka panjang, tanaman mendapat nutrisi cepat saat butuh, dan biaya produksi bisa ditekan.

    Penutup

    Tidak ada jawaban tunggal mana yang paling baik โ€” karena kondisi sawah tiap petani berbeda. Tapi satu hal pasti: menggantungkan sawah hanya pada pupuk kimia terus-menerus tanpa bahan organik sama saja seperti menguras tabungan tanpa pernah menabung lagi.


    Tips Singkat:

  • Cek pH tanah dulu sebelum memupuk โ€” idealnya 5,5โ€“6,5 untuk padi
  • Jerami sisa panen jangan dibakar, composkan dulu selama 3โ€“4 minggu
  • Beli pupuk kimia resmi bersubsidi di kios terdaftar untuk memastikan kualitas
  • Catat dosis dan waktu pemupukan di buku harian tani agar musim berikutnya lebih terarah