Blog Pertanian
Pompa Air Solar vs Listrik: Hitung Biaya Irigasi Sawah per Musim
Alat Tani

Pompa Air Solar vs Listrik: Hitung Biaya Irigasi Sawah per Musim

Foto: Unsplash

Bingung pilih pompa solar atau listrik untuk sawah? Artikel ini membandingkan biaya nyata per musim agar keputusan Anda tepat sasaran.

14 Mei 2026oleh Tim Redaksi TANIOS

Pompa Air Solar vs Listrik: Hitung Biaya Irigasi Sawah per Musim

Memasuki musim tanam Mei 2026, banyak petani mulai was-was soal biaya irigasi. Harga solar subsidi saat ini berkisar Rp 6.800/liter, sementara tarif listrik pertanian golongan S-2 dari PLN ada di kisaran Rp 1.352/kWh. Pertanyaannya sederhana: mana yang lebih hemat untuk pompa sawah kita?

Jawaban pastinya tergantung luas lahan, jarak sumber air, dan ketersediaan jaringan listrik. Mari kita hitung bareng.


Asumsi Dasar Perhitungan

Untuk perbandingan yang adil, kita pakai skenario sawah seluas 1 hektare, satu musim tanam (Β± 100 hari), dengan kebutuhan pompa 4–5 jam per hari selama 60 hari aktif (fase vegetatif hingga pengisian bulir padi varietas Ciherang atau Inpari 32).


Pompa Solar: Fleksibel tapi Boros di Kantong

Pompa diesel berbahan bakar solar yang umum dipakai petani adalah kapasitas 3–5 PK (merek Robin, Yanmar, atau Kubota).

  • Konsumsi solar rata-rata: 1,2–1,5 liter/jam
  • Pemakaian per hari (4 jam): Β± 5–6 liter
  • Total 60 hari: Β± 300–360 liter
  • Biaya solar per musim: Rp 2.040.000 – Rp 2.448.000

Belum termasuk oli mesin yang harus diganti setiap 100 jam kerja (Β± Rp 80.000–120.000/kali) dan biaya servis kecil Rp 150.000–200.000 per musim.

Total biaya operasional pompa solar per musim: sekitar Rp 2.270.000 – Rp 2.768.000


Pompa Listrik: Investasi Awal Lebih Mahal, tapi Irit Jangka Panjang

Pompa listrik submersible atau sentrifugal kapasitas setara (daya 1.100–2.200 watt atau 1,5–3 HP) cocok untuk lahan 1 hektare jika sumber air dangkal (kedalaman < 10 meter).

  • Konsumsi listrik: 1,5–2,2 kWh/jam
  • Pemakaian per hari (4 jam): Β± 6–9 kWh
  • Total 60 hari: Β± 360–540 kWh
  • Tarif listrik pertanian S-2: Rp 1.352/kWh
  • Biaya listrik per musim: Rp 486.720 – Rp 730.080

Hampir tidak ada biaya perawatan rutin kecuali pengecekan kabel dan impeller setahun sekali (Β± Rp 100.000).

Total biaya operasional pompa listrik per musim: sekitar Rp 586.720 – Rp 830.080


Perbandingan Langsung

| Aspek | Pompa Solar | Pompa Listrik | |---|---|---| | Biaya operasional/musim | Rp 2,3 jt – 2,8 jt | Rp 587 rb – 830 rb | | Harga unit baru | Rp 6–15 juta | Rp 2–7 juta | | Perawatan | Sedang–tinggi | Rendah | | Mobilitas | Tinggi (bisa dipindah) | Rendah (butuh instalasi) | | Syarat infrastruktur | Tidak perlu listrik | Perlu jaringan PLN |

Dalam 2–3 musim tanam, selisih biaya operasional pompa listrik sudah bisa menutup harga beli unit-nya.


Mana yang Cocok untuk Anda?

  • Pilih pompa solar jika sawah Anda jauh dari jaringan listrik, atau Anda punya beberapa petak yang tersebar.
  • Pilih pompa listrik jika jaringan PLN tersedia, lahan relatif tetap, dan Anda ingin menekan biaya jangka panjang.

Petani yang masuk kelompok tani aktif bisa mengakses program bantuan alsintan dari Kementerian Pertanian melalui e-proposal SIMLUHTAN β€” manfaatkan itu sebelum musim tanam berikutnya.


Tips Singkat:

  • Catat jam kerja pompa setiap hari di buku sederhana β€” ini membantu Anda tahu kapan saatnya servis dan menghitung biaya riil per musim.
  • Untuk pompa listrik, pastikan kabel instalasi menggunakan NYY minimal 2,5 mmΒ² agar aman dari korsleting di area sawah yang lembap.
  • Bandingkan harga solar di pangkalan resmi terdekat; jangan beli eceran karena bisa 20–30% lebih mahal per liternya.