Krisis Petani 2030: Apa yang Dilakukan Kementan Sekarang?
Tanpa regenerasi petani, Indonesia diprediksi krisis tenaga kerja tani di 2030. Ini kebijakan Kementan dan cara petani memanfaatkannya.
Krisis Petani 2030: Apa yang Dilakukan Kementan Sekarang?
Bayangkan sawah-sawah luas tanpa ada yang menggarapnya. Bukan karena kekeringan atau hama, tapi karena tidak ada orang yang mau bertani. Skenario ini bukan sekadar khayalan โ data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan rata-rata usia petani Indonesia saat ini sudah menyentuh 47 tahun, dan jumlah petani muda (di bawah 35 tahun) terus menyusut setiap dekade. Jika tren ini tidak dibalik, para ahli memperkirakan Indonesia akan menghadapi krisis tenaga kerja pertanian serius menjelang 2030.
Pertanyaannya: apa yang sedang dilakukan pemerintah, dan apa artinya ini bagi petani di lapangan?
Gambaran Demografis yang Mengkhawatirkan
Sensus Pertanian 2023 mencatat sekitar 29 juta rumah tangga petani, namun porsi petani berusia di atas 45 tahun terus mendominasi. Anak-anak muda desa banyak yang memilih merantau ke kota karena bertani dianggap tidak menjanjikan secara ekonomi. Akibatnya, transfer pengetahuan lokal terputus, dan lahan mulai terlantar โ terutama di daerah terpencil.
Respons Kebijakan Kementan: Program Petani Milenial
Kementerian Pertanian di bawah kepemimpinan Menteri Andi Amran Sulaiman telah menjadikan regenerasi petani sebagai prioritas strategis nasional. Beberapa kebijakan dan program aktif yang perlu diketahui petani dan penyuluh:
1. Program Petani Milenial Nasional
Program ini memberikan akses pelatihan, modal awal, dan pendampingan teknologi bagi pemuda tani berusia 19โ39 tahun. Peserta bisa mendapatkan bantuan benih unggul bersertifikat, akses KUR Pertanian dengan bunga ringan (6% per tahun), dan koneksi ke pasar digital via platform SIPLah Pertanian dan i-Pubers.2. Permentan No. 04 Tahun 2024 tentang Penyuluhan Pertanian
Regulasi ini memperkuat peran Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) sebagai pusat pembelajaran berbasis teknologi di tingkat kecamatan. Penyuluh diwajibkan memfasilitasi pelatihan digital farming minimal dua kali per semester untuk kelompok tani, termasuk penggunaan drone, sensor tanah, dan aplikasi cuaca.3. Sekolah Lapang Petani Milenial (SLPM)
Dikelola oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), SLPM membuka pendaftaran tiap semester di seluruh provinsi. Peserta mendapat sertifikat kompetensi yang diakui untuk mengakses kredit usaha tani.Apa yang Bisa Dilakukan Petani dan Kelompok Tani Sekarang?
Jangan tunggu krisis tiba. Kelompok tani bisa mulai mengambil langkah konkret:
- Rekrut anak muda ke dalam kepengurusan kelompok tani, bahkan jika mereka belum berpengalaman. Pengalaman bisa dilatih.
- Hubungi BPP di kecamatan untuk menanyakan jadwal SLPM atau pendaftaran Program Petani Milenial di wilayah Anda.
- Dorong anggota muda mendaftar KUR Pertanian melalui bank mitra Kementan (BRI, BNI, Mandiri) dengan memanfaatkan surat rekomendasi dari kelompok tani sebagai syarat pengajuan.
- Dokumentasikan pengetahuan lokal โ varietas lokal, pola tanam tradisional, kearifan irigasi โ sebelum generasi tua pensiun.
Penutup
Regenerasi petani bukan hanya urusan pemerintah. Setiap kelompok tani, setiap penyuluh, dan setiap keluarga petani punya peran. Kebijakan Kementan sudah menyiapkan jalurnya โ tugas kita adalah memanfaatkannya sebelum terlambat.
Tips Singkat: