Blog Pertanian
Food Estate Kementan 2026: Program Mana yang Jalan dan Dampaknya
Berita

Food Estate Kementan 2026: Program Mana yang Jalan dan Dampaknya

Foto: Unsplash

Pantau perkembangan program food estate Kementan, mana yang sudah berproduksi, dan apa yang benar-benar dirasakan petani lokal di lapangan.

13 Mei 2026oleh Tim Redaksi TANIOS

Food Estate Kementan 2026: Program Mana yang Sudah Jalan dan Dampaknya bagi Petani Lokal

Sudah beberapa tahun program food estate digaungkan sebagai solusi ketahanan pangan nasional. Tapi pertanyaan yang paling sering muncul di lapangan tetap sama: mana yang benar-benar sudah berjalan, dan petani lokal dapat apa?

Per Mei 2026, setidaknya ada tiga kawasan food estate yang statusnya paling banyak dibicarakan β€” dan hasilnya tidak semuanya sama.


1. Food Estate Kalimantan Tengah (Pulang Pisau & Kapuas)

Ini yang paling lama bergulir. Dimulai sejak 2020 dengan target awal 165.000 hektare lahan rawa, hingga awal 2026 lahan yang benar-benar aktif berproduksi berkisar di angka 30.000–40.000 hektare setelah melalui berbagai perbaikan drainase dan tata air.

Varietas padi yang dikembangkan di sini antara lain Inpara 3, Inpara 8, dan Mekongga β€” cocok untuk lahan rawa pasang surut. Produktivitas rata-rata saat ini berada di kisaran 3,5–4,2 ton/hektare GKP, masih di bawah potensi optimal, tapi sudah naik dibanding tahun-tahun awal.

Yang dirasakan petani lokal: Sebagian petani Dayak dan transmigran mengaku mendapat akses alsintan (traktor, combine harvester) lewat program Brigade Pangan Kementan. Namun, masalah harga jual gabah yang seringkali tidak terserap Bulog karena kualitas GKP yang belum konsisten masih menjadi keluhan utama.


2. Food Estate Sumatera Utara (Humbang Hasundutan)

Kawasan ini difokuskan untuk hortikultura β€” bawang putih, kentang, dan jagung. Luas aktif sekitar 1.000 hektare dari target awal 30.000 hektare.

Benih kentang varietas Granola L dan bawang putih Tawangmangu Baru menjadi andalan. Program subsidi benih dan pupuk organik dari APBN 2025–2026 sudah menyentuh sekitar 2.400 kepala keluarga petani di kawasan ini.

Catatan lapangan: Infrastruktur jalan produksi yang dibangun sejak 2023 mulai membantu distribusi hasil panen ke pasar Medan. Harga kentang petani di sini berkisar Rp 8.000–10.000/kg di tingkat kebun (Maret–April 2026).


3. Food Estate Merauke (Papua Selatan)

Ini kawasan terbaru dan terbesar dalam rencana β€” targetnya 1 juta hektare untuk padi dan tebu. Per Mei 2026, fase pertama seluas 100.000 hektare sedang dalam proses land clearing dan persiapan lahan.

Verietas padi yang diuji coba adalah Ciherang dan Inpari 42 GSR yang tahan kekeringan. Hasil panen percobaan di lahan percontohan 500 hektare menunjukkan produktivitas 4,0–4,8 ton/hektare.

Isu yang perlu diperhatikan: Dampak sosial bagi masyarakat adat Malind menjadi sorotan LSM dan media. Kementan menyatakan akan melibatkan 10.000 petani lokal lewat pola kemitraan plasma-inti dengan BUMN pangan.


Apa yang Bisa Dipetik Petani?

Program food estate membuka peluang akses alsintan, benih subsidi, dan infrastruktur β€” tapi petani perlu aktif mendaftarkan diri lewat Kelompok Tani (Poktan) yang terdaftar di Simluhtan (sistem informasi penyuluh Kementan). Tanpa bergabung dalam poktan resmi, akses ke bantuan program ini sangat terbatas.


Tips Singkat:

  • βœ… Pastikan Poktan kamu terdaftar di Simluhtan.pertanian.go.id agar bisa mengakses program bantuan food estate.
  • βœ… Pantau harga referensi gabah HPP terbaru (HPP GKP 2026: Rp 6.500/kg) sebelum menjual hasil panen ke pengepul.
  • βœ… Minta penyuluh pertanian setempat untuk cek ketersediaan alsintan Brigade Pangan di kecamatanmu β€” banyak yang belum terpakai optimal.
  • βœ… Jika lahanmu masuk zona food estate, dokumentasikan bukti kepemilikan atau surat garapan sejak awal untuk perlindungan hak lahan.