Blog Pertanian
Busuk Akar Phytophthora pada Cabai: Kenali Sebelum Terlambat
Hama & Penyakit

Busuk Akar Phytophthora pada Cabai: Kenali Sebelum Terlambat

Foto: Unsplash

Pelajari gejala, cara mencegah, dan obat busuk akar Phytophthora pada cabai agar panen tidak gagal total.

18 Mei 2026oleh Tim Redaksi TANIOS

Busuk Akar Phytophthora pada Cabai: Kenali Sebelum Terlambat

Memasuki musim hujan seperti Mei 2026 ini, salah satu ancaman terbesar bagi kebun cabai adalah penyakit busuk akar yang disebabkan jamur Phytophthora capsici. Penyakit ini bisa merontokkan tanaman dalam hitungan hari โ€” petani sering menyebutnya "layu mendadak" karena tanamannya kelihatan sehat pagi hari, tapi sore sudah rebah. Kalau sudah terlanjur menyebar ke seluruh bedengan, kerugiannya bisa mencapai 80% dari total panen.

Apa Itu Phytophthora capsici?

Phytophthora capsici bukan jamur biasa. Ia termasuk oomycete (jamur air) yang berkembang sangat cepat di kondisi tanah lembap dan becek. Sporanya bisa bertahan di tanah hingga beberapa tahun, dan menyebar lewat air genangan, alat pertanian kotor, bahkan alas kaki petani.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Gejala busuk akar Phytophthora bisa dibedakan dalam beberapa tahap:

  • Awal: Daun bawah menguning, tanaman terlihat layu pada siang hari tapi sedikit pulih di pagi hari.
  • Lanjut: Pangkal batang dekat permukaan tanah berubah cokelat kehitaman, terasa lunak bila dipegang.
  • Parah: Akar membusuk total, tanaman rebah dan mati. Bila dicabut, akar berwarna cokelat gelap dan berbau busuk.

Beda dengan layu bakteri (Ralstonia), batang tanaman yang terserang Phytophthora tidak mengeluarkan lendir putih saat dipotong dan dimasukkan ke air.

Penyebab dan Kondisi Pemicu

Penyakit ini meledak saat:

  • Drainase kebun buruk, air tergenang lebih dari 6 jam
  • Kelembapan tanah di atas 85% selama beberapa hari berturut-turut
  • Jarak tanam terlalu rapat (di bawah 50 x 60 cm)
  • Bibit berasal dari lahan terinfeksi tanpa perlakuan benih
  • Cara Pencegahan yang Efektif

    1. Perbaiki drainase bedengan Buat bedengan dengan tinggi minimal 30โ€“40 cm dan lebar 100โ€“120 cm. Pastikan parit antar bedengan sedalam 25 cm agar air hujan langsung mengalir keluar.

    2. Perlakuan benih dan bibit Rendam benih selama 30 menit dalam larutan fungisida berbahan aktif metalaksil dosis 2 g/liter air sebelum semai. Varietas cabai merah yang relatif toleran antara lain Kencana F1 dan Lado F1 โ€” pertimbangkan untuk menggunakannya di lahan rawan.

    3. Aplikasi agen hayati Siramkan Trichoderma harzianum dengan dosis 10 g/liter air ke media semai dan lubang tanam. Ulangi setiap 2 minggu sekali selama fase vegetatif.

    4. Rotasi tanaman Hindari menanam cabai di lahan yang sama dua musim berturut-turut. Selingi dengan jagung atau kacang tanah minimal satu musim.

    Pengendalian Saat Sudah Terinfeksi

    Jika gejala sudah muncul, lakukan tindakan segera:

    • Cabut dan musnahkan tanaman yang sudah rebah agar tidak menjadi sumber penularan.
    • Siramkan fungisida sistemik berbahan aktif metalaksil-M + mankozeb (contoh: Ridomil Gold MZ 68 WG) dengan dosis 2โ€“3 g/liter air langsung ke pangkal batang dan zona akar. Aplikasikan setiap 7โ€“10 hari sebanyak 2โ€“3 kali.
    • Jangan menyiram berlebihan selama pengobatan berlangsung.
    • Taburkan kapur pertanian (dolomit) di sekitar bedengan yang terinfeksi untuk menaikkan pH tanah ke 6,5โ€“7,0, karena Phytophthora tidak menyukai kondisi ini.

    Penutup

    Kunci utama melawan busuk akar Phytophthora adalah tindakan pencegahan sejak persiapan lahan. Jangan tunggu tanaman layu baru bergerak โ€” karena saat itu biasanya sudah terlambat. Rutin periksa kebun setiap pagi terutama setelah hujan deras.


    Tips Singkat: โœ… Bedengan tinggi = risiko genangan turun drastis โœ… Trichoderma sejak semai = pertahanan akar lebih kuat โœ… Metalaksil-M + mankozeb = andalan saat serangan sudah terjadi โœ… Jangan pakai air comberan atau alat dari lahan yang terinfeksi โœ… Catat lokasi tanaman yang mati โ€” kemungkinan besar tanah di sana masih terinfeksi musim depan